SELECTED PRODUCT WORK

Hal-hal yang pernah gue bantu kerjain.
Dan yang gue pelajari dari prosesnya.

Beberapa kerjaan produk & engineering yang pernah gue pegang—mulai dari digital commerce, platform, mobile app, internal tools, IoT, sampai beberapa sistem lain yang gue temui sepanjang jalan.

10 work

FILTER

Filter work

Pilih yang relevan buat mempersempit daftar. Kombinasikan beberapa filter bila perlu.

ilustrasi migrasi catalog jdsports
Erajaya Group - JD Sports Indonesia2026Sudah Dirilis

Migrasi Sistem Catalog

Awalnya migrasi sekitar 80.000 produk terdengar seperti masalah data: pindahkan catalog dari sistem lama ke sistem baru, pastikan datanya benar, lalu selesai. Ternyata bagian susahnya bukan di situ. Catalog lama sudah bertahun-tahun terhubung ke banyak bagian commerce, sementara nggak semua dependency dan behavior-nya terdokumentasi dengan baik. Jadi sebelum bisa mengganti sistemnya, kami justru harus memahami dulu sebenarnya apa saja yang selama ini bergantung ke sistem lama dan apa yang harus tetap bekerja persis seperti sebelumnya setelah migrasi.

PERAN SAYA
Senior Product Manager (Senior Assistant Manager)
DAMPAK
Project ini cukup mengubah definisi “migrasi” di kepala saya. Sebelumnya saya melihat migrasi ya sebagai memindahkan sesuatu dari sistem lama ke sistem baru. Sekarang saya malah melihatnya sebagai proses mencari semua hal yang selama bertahun-tahun kita lupa ternyata dikerjakan oleh sistem lama. Datanya justru bagian yang paling kelihatan. Risiko sebenarnya banyak hidup di dependency, asumsi, edge case, dan behavior yang sudah terlalu lama berjalan sampai semua orang menganggapnya normal. Dan satu hal lagi yang baru benar-benar kerasa setelah cutover: migrasi nggak selesai ketika sistem barunya sudah live. Kalau orang yang sehari-hari menggunakannya belum memahami cara kerja barunya, kita mungkin sudah selesai secara teknis. Tapi belum tentu selesai sebagai produk.
Product area
Product CatalogCommerce PlatformPlatform MigrationProduct DataWebsiteMobile AppKioskProduct DiscoveryMerchandisingCommerce InfrastructureInternal Tools
Platform
WebMobile AppKioskInternal App3rd Parties Integrations
Baca studi kasus
ilustrasi aplikasi jd sports
Erajaya Group - JD Sports Indonesia2024 - PresentTerus Dikembangkan

Aplikasi Mobile JD Sports Indonesia

Banyak orang mengira tantangan terbesar dalam membuat aplikasi adalah proses pengembangannya. Buat saya, justru tantangan sebenarnya datang setelah itu. Bagaimana mengambil keputusan ketika setiap stakeholder membawa perspektif yang berbeda, sementara semuanya sama-sama punya alasan yang masuk akal. Proyek ini menjadi salah satu pelajaran bagi saya tentang bagaimana membangun produk bukan hanya untuk pengguna, tetapi juga bersama banyak pihak yang memiliki tujuan berbeda.

PERAN SAYA
Senior Product Manager (Assistant Manager - Digital Product)
DAMPAK
Kalau cuma melihat hasil akhirnya, mungkin cerita proyek ini sederhana: aplikasi dibuat, diluncurkan, lalu dipakai banyak orang. Buat saya, dampak terbesarnya justru ada di cara saya bekerja setelahnya. Saya jadi jauh lebih skeptis terhadap kalimat seperti “user butuh ini”, “di market lain begini”, atau “business minta ini” kalau belum tahu konteks di belakangnya. Semua itu bisa valid, tapi belum tentu otomatis menjadi keputusan produk yang benar. Saya juga belajar bahwa Product Manager tidak selalu harus menjadi orang yang punya jawaban terbaik di ruangan. Sering kali pekerjaan yang lebih penting adalah memastikan orang-orang di ruangan tersebut sedang membicarakan masalah yang sama. Dan mungkin itu pelajaran terbesar dari proyek ini: membangun produk ternyata bukan hanya soal membuat keputusan yang bagus. Banyak waktunya justru dipakai untuk membuat keputusan yang cukup masuk akal agar banyak orang dengan kepentingan berbeda tetap bisa bergerak ke arah yang sama.
Product area
Mobile CommerceAndroidiOSCustomer ExperienceCommerceLoyaltyProduct DiscoveryAccount & IdentityCheckout & PaymentRetention
Platform
AndroidIOS
Baca studi kasus
ilustrasi system integration
Erajaya Group - JD Sports Indonesia2023 - PresentTerus Dikembangkan

Commerce Integrations & Data Flows

Sebagian pekerjaan paling teknis yang saya pegang sebagai Product Manager justru hampir nggak punya UI. Selama megang digital product JD Sports Indonesia, saya cukup sering berada di tengah integrasi antara commerce platform dengan berbagai system lain: product discovery, analytics, marketing, attribution, personalization, notification, sampai system dan service internal. Cara integrasinya juga macam-macam. Ada yang bertukar data lewat feed, API, SDK, script, sampai event-driven integration. Tapi setelah cukup sering ngerjain beginian, ternyata problem dasarnya kurang lebih selalu balik ke tiga pertanyaan: Data apa yang harus pindah? Kapan dia harus pindah? Dan apa yang terjadi kalau dia nggak sampai dengan benar? Dari sini technical acumen saya sebagai PM mungkin paling banyak terasah.

PERAN SAYA
Senior Product Manager (Assistant Manager - Digital Product)
DAMPAK
Kalau pengalaman di Telco dulu memberi saya fondasi technical literacy, kerjaan integration seperti ini yang kemudian terus mengasahnya dalam konteks Product Management. Saya jadi jauh lebih nyaman baca technical documentation, diskusi soal data contract, test API, ngerti boundary antar system, sampai troubleshooting bareng engineer atau partner ketika behavior-nya nggak sesuai ekspektasi. Tapi yang lebih penting, cara saya melihat product juga berubah. Sekarang kalau lihat search result, recommendation, notification, analytics event, atau sekadar informasi product di layar, saya nggak cuma melihat apa yang dirender di UI. Saya otomatis kepikiran: data ini asalnya dari mana, siapa yang punya, lewat system apa saja, kapan terakhir berubah, dan apa yang terjadi kalau salah satu sambungannya gagal. Menurut saya di sinilah sisi technical saya sebagai Product Manager paling terasa. Bukan karena saya harus mengambil pekerjaan engineer. Justru karena saya jadi lebih ngerti seberapa dalam saya perlu masuk supaya bisa membuat keputusan product yang benar, dan kapan saya harus berhenti lalu membiarkan specialist yang lebih ngerti mengambil alih.
Product area
System IntegrationCommerce PlatformAPISDKProduct DataData FeedsAnalyticsMarketing TechnologyProduct DiscoveryAttributionPersonalizationPush NotificationWebMobile AppKioskInternal Services
Platform
UNBXDSalesforceGoogle Analytics 4Microsoft ClarityFirebaseAdjustImpactTrue FitMagentoInternal ToolsMiddlewareSAP
Baca studi kasus
ilustrasi b2b delaer portal
Erajaya Group - B2B TAM2023Sudah Dirilis

B2B Dealer Portal

Sebelumnya saya cukup terbiasa melihat ecommerce dari sisi B2C: banyak customer, banyak transaksi, dan sebagian besar experience dibuat supaya proses belanja terasa sesederhana mungkin. Waktu sempat pegang B2B Dealer Portal selama beberapa bulan, saya baru melihat bentuk ecommerce yang agak berbeda. User-nya memang jauh lebih sedikit, tapi setiap transaksi punya nilai dan konsekuensi yang jauh lebih besar. Dari sini saya mulai sadar kalau user lebih sedikit bukan berarti produknya otomatis lebih sederhana.

PERAN SAYA
Product Manager yang sementara mengambil alih B2B Dealer Portal selama masa transisi tim.
DAMPAK
Yang paling saya bawa dari project ini sebenarnya bukan fitur yang sempat dikerjakan. Justru cara saya melihat scale yang berubah. Sebelumnya kalau bicara ecommerce besar, pikiran saya otomatis ke jumlah user, traffic, atau banyaknya transaksi. Di B2B saya melihat dimensi lain. User-nya bisa jauh lebih sedikit. Transaksinya juga nggak sebanyak B2C. Tapi satu transaksi bisa membawa konsekuensi bisnis yang jauh lebih besar. Sejak itu saya jadi agak hati-hati kalau melihat produk dengan user sedikit lalu langsung menganggap produknya kecil atau sederhana. Jumlah user cuma salah satu bentuk scale. Konsekuensi dari apa yang dilakukan setiap user juga bentuk scale yang lain.
Product area
B2B CommerceDealer PortalWebOrder ManagementTransaction ManagementInternal OperationsBusiness OperationsWholesaleCustomer ExperienceOperational Workflows
Platform
WebInternal Tools
Baca studi kasus
ilustrasi jd sports digital commerce ecosystem
Erajaya Group - JD Sports Indonesia2023 - PresentTerus Dikembangkan

Website, Kiosk & Internal Apps JD Sports Indonesia

Awalnya saya melihat website ya sebagai website. Ada catalog, PDP, cart, checkout, selesai. Setelah tiga tahun lebih pegang banyak bagian di dalamnya, saya mulai sadar kalau yang dilihat customer di layar mungkin justru bagian paling sederhana dari sebuah ecommerce. Dari maintain dan memperbaiki produk yang sudah ada, scope saya perlahan melebar ke kiosk, internal apps, berbagai integrasi, sampai banyak bagian lain yang bekerja di belakangnya. Dari situ saya mulai melihat ecommerce bukan lagi sebagai kumpulan halaman dan fitur, tapi sebagai banyak sistem yang harus bisa bekerja bareng tanpa customer perlu tahu serumit apa yang terjadi di belakang.

PERAN SAYA
Senior Product Manager (Senior Assistant Manager - Digital Product)
DAMPAK
Dampak paling besar dari tiga tahun lebih di area ini justru ada di cara saya melihat produk. Saya mulai dari apa yang kelihatan di layar. Lama-lama saya jadi penasaran dengan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Sebuah produk nggak tiba-tiba muncul begitu saja di website. Ada data yang harus datang dari suatu tempat, dilengkapi, diatur, dikurasi, bisa ditemukan customer, punya harga dan stock yang sesuai, lalu kadang data yang sama juga harus dibaca oleh platform lain dengan kebutuhan yang berbeda. Begitu customer memutuskan beli, rantainya lanjut lagi ke cart, payment, order, fulfillment, dan proses setelah transaksi. Saya nggak perlu membuka detail bagaimana semua itu bekerja di sini. Yang penting buat saya justru apa yang saya pelajari dari melihat semuanya saling berhubungan. Saya jadi semakin jarang melihat pekerjaan sebagai “fitur saya” atau “sistem mereka.” Biasanya bagian yang paling menarik justru ada di tengah-tengahnya.
Product area
EcommerceWebsiteKioskInternal ToolsCommerce PlatformProduct CatalogMerchandisingProduct DiscoveryInventoryOrder ManagementOmnichannelCustomer ExperienceOperations
Platform
WebKioskInternal ToolsSystem Integrations
Baca studi kasus
ilustrasi moladin wholesael ecosystem
Moladin - Wholesale Business Unit2022Diarsipkan

Moladin Wholesale Mobile & Internal Apps

Saya memang nggak lama di Moladin. Belum sampai setahun, tech winter datang dan perjalanan saya di sana selesai karena layoff. Tapi kalau ditanya pengalaman mana yang paling membentuk cara saya bekerja sebagai Product Manager setelahnya, beberapa bulan di sini justru termasuk salah satunya. Di sini saya pertama kali benar-benar pegang satu squad dengan engineering team yang dedicated, development cycle yang lebih terstruktur, analytics yang memang disiapkan untuk product team, dan ownership yang cukup jelas. Saya mungkin nggak cukup lama untuk melihat semua yang kami kerjakan berkembang jauh. Tapi saya keluar dari sana dengan sesuatu yang sampai sekarang masih kepakai: gambaran tentang bagaimana Product Management seharusnya dijalankan ketika environment-nya mendukung.

PERAN SAYA
Associate Product Manager - Core Platform
DAMPAK
Impact terbesar Moladin buat saya justru baru kerasa setelah saya keluar. Di sini pertama kalinya saya ngerasain banyak bagian Product Management bekerja bareng dalam satu environment: ownership squad yang jelas, engineering capacity yang dedicated, QA, sprint yang proper, analytics, tracking, sampai hubungan antara discovery dan delivery. Setelah pindah ke environment lain, saya baru sadar ternyata nggak semua company punya setup seperti itu. Ada tempat yang tooling-nya terbatas. Ada yang struktur product-nya belum matang. Ada juga kondisi di mana leadership belum tentu bisa memberikan arahan product practice yang kita butuhkan. Untungnya, saya sudah pernah melihat satu bentuk cara kerja yang menurut saya masuk akal. Jadi ketika environment berikutnya nggak menyediakan semuanya, saya nggak benar-benar mulai dari nol. Saya sudah punya kompas sendiri tentang bagaimana Product Management seharusnya dijalankan.
Product area
AndroidInternal ToolsWholesaleAutomotiveField OperationsVehicle InspectionVehicle ListingTransaction ManagementFraud PreventionUser Access ManagementOperational WorkflowsProduct Analytics
Platform
Android
Baca studi kasus
ilustrasi gokampus
goKampus (Now LearNext.ai)2021Diarsipkan

goKampus University & Learning Platform

Role full-time pertama saya di Product Management kebetulan datang ketika produknya sendiri juga lagi berubah arah. goKampus awalnya dikenal sebagai platform yang membantu calon mahasiswa daftar ke berbagai kampus lewat satu tempat. Waktu saya masuk, company-nya lagi mulai bergerak lebih jauh ke online learning, dan saya ikut pegang beberapa bagian dari perubahan itu: mulai dari learner experience, internal apps, platform untuk content partner, sampai eksperimen awal live learning. Di sini saya pertama kali belajar kalau dalam product development, kadang cara tercepat untuk tahu sesuatu layak dibangun atau nggak justru dengan belum membangunnya terlalu banyak.

PERAN SAYA
Senior Associate Product Manager - goKampus University & Internal Platform
DAMPAK
goKampus mungkin tempat pertama yang bikin saya sadar kalau pekerjaan Product Manager ternyata nggak identik dengan bikin fitur. Sebagai PM yang waktu itu masih baru, rasanya gampang untuk melihat semua problem lalu otomatis berpikir: “Berarti kita harus develop sesuatu.” Di sini saya mulai belajar kalau semakin besar uncertainty-nya, justru semakin hati-hati kita seharusnya commit ke solution. Kadang jawabannya memang fitur baru. Kadang cukup memperbaiki workflow internal. Dan kadang jawabannya cuma form, link Zoom, sedikit pekerjaan manual, dan waktu yang cukup untuk melihat apakah asumsi kita benar. Kelihatannya sederhana, tapi pola pikir itu terus saya bawa ke role-role setelahnya.
Product area
EdTechOnline LearningLearning Management SystemLive LearningWebInternal ToolsPartner PlatformContent ManagementLearner ExperienceCourse CompletionCertificationEducation Marketplace
Platform
IOSAndroidWeb
Baca studi kasus
ilustrasi water metering IoT System
PT Gamatechno Indonesia2021Diarsipkan

End-to-end Smart Water Meter Platform

Awalnya kelihatannya seperti project IoT yang cukup straightforward: bikin water meter yang bisa mengirim data secara otomatis. Ternyata begitu dibawa lebih jauh, produknya jadi jauh lebih besar dari sekadar meteran. Ada device di lapangan, connectivity, IoT platform, aplikasi untuk perusahaan air, sampai mobile app untuk customer. Bahkan prosesnya ikut masuk ke pengelolaan penggunaan dan tagihan. Di Gamatechno, saya dipercaya sebagai Product Owner untuk mengembangkan product ini dan membawanya sampai bisa didemokan ke beberapa calon pengguna. Produknya jalan. Demonya juga jalan. Tapi sampai saya pindah dari Gamatechno, belum ada yang akhirnya benar-benar mengadopsinya secara komersial. Dari sini saya belajar satu tahap lebih jauh dari POC-POC sebelumnya: produk yang bisa bekerja belum tentu produk yang market-nya siap beli.

PERAN SAYA
Product Owner · IoT System Analyst
DAMPAK
Kalau POC-POC sebelumnya ngajarin saya bahwa technically feasible belum tentu commercially viable, project ini membawa lesson itu satu langkah lebih jauh. Karena kali ini produknya bukan sekadar prototype kecil. Device ada. Connectivity jalan. Platform ada. Operational app ada. Customer app juga ada. Bahkan semuanya bisa didemokan sebagai satu service. Dan ternyata semua checklist itu masih belum otomatis berarti: ada market yang mau beli. Buat saya waktu itu lumayan membuka mata. Karena ternyata kita bisa punya sesuatu yang secara definisi sudah terasa seperti “produk”, tapi masih belum punya jawaban yang kuat untuk pertanyaan paling basic: siapa yang cukup butuh ini sampai mereka mau berubah dan membayar untuk menggunakannya?
Product area
IoTSmart MeteringUtility TechnologyB2BHardwareLoRaWANIoT PlatformInternal ToolsBillingPaymentCustomer ManagementAndroidiOSOperational Platform
Platform
IoT HardwareIoT GatewayIoT ConnectivityWebIOSAndroid
Baca studi kasus
ilustrasi prototyping IoT
PT Gamatechno Indonesia2021Diarsipkan

IoT Solution Prototyping

Sebelum akhirnya pindah jalur lebih jauh ke Product Management, saya sempat beberapa bulan berada jauh lebih dekat dengan teknologinya sendiri. Awalnya saya di-hire Gamatechno sebagai IoT Engineer, tapi praktiknya role saya lebih banyak seperti IoT System Analyst. Saya ikut ngobrol dengan calon client, mencoba memahami masalah operasional mereka, menerjemahkannya menjadi solusi teknis, lalu cukup sering bikin sendiri POC-nya untuk membuktikan apakah idenya memang bisa jalan. Beberapa secara teknis berhasil. Tapi selama saya di sana, nggak ada yang akhirnya benar-benar sampai production. Dan anehnya, justru dari situ saya belajar salah satu hal yang sampai sekarang masih cukup nempel: Sesuatu bisa technically possible tanpa necessarily worth implementing.

PERAN SAYA
IoT System Analyst
DAMPAK
Pengalaman ini akhirnya banyak kepakai setelah saya pindah lebih jauh ke Product Management. Pernah bekerja dari sensor, network, data processing sampai interface bikin pembicaraan teknis setelahnya terasa nggak terlalu abstrak. Saya mungkin sudah nggak sehari-hari pegang ESP32 atau Raspberry Pi, tapi mental model tentang bagaimana data bergerak dari satu layer ke layer lain masih kebawa. Tapi lesson terbesarnya malah bukan soal IoT. Di sini mungkin pertama kalinya saya benar-benar melihat bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan development juga bisa menjadi outcome yang valid. Kalau sebuah prototype sudah memberi kita cukup informasi untuk menghindari investasi yang ternyata nggak masuk akal, berarti prototype itu tetap melakukan pekerjaannya.
Product area
IoTHardwareConnected DevicesIndoor PositioningAsset TrackingSmart AgricultureIndustrial MonitoringPredictive MaintenanceLoRaWANBluetooth Low EnergyCloud PlatformData Visualization
Platform
IoT HardwareIoT ConnectivityWebWeb DasdhboardWeb Internal ToolsIOSAndroid
Baca studi kasus
ilustrasi antares iot platform ecosystem
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk2020Sudah Dirilis

ANTARES IoT Platform & LoRAWAN Connectivity Deployment

Kalau ditarik cukup jauh ke belakang, banyak fondasi teknis saya sebenarnya mulai kebentuk dari satu tahun magang di Telkom Indonesia. Saya waktu itu masuk ke tim IoT dan banyak bersentuhan dengan ANTARES dan pengembangan connectivity-nya. Kerjaan saya cukup campur aduk: dari PCB, 3D printing, antenna, LoRaWAN gateway dan network testing, sampai QA dan nulis technical documentation. Waktu itu saya melihat semuanya sebagai kesempatan buat belajar engineering sebanyak-banyaknya. Baru setelah beberapa tahun kerja saya sadar ada satu hal lain yang ternyata ikut kebentuk di sana: belajar sebuah sistem sampai cukup ngerti untuk bisa menjelaskannya lagi ke orang lain.

PERAN SAYA
IoT Research & Development Intern
DAMPAK
Impact paling besar dari pengalaman ini buat saya justru technical literacy. Bukan dalam arti harus jadi engineer paling jago di ruangan. Tapi cukup ngerti bagaimana layer-layer teknis saling terhubung supaya ketika ada masalah, saya nggak melihat semuanya sebagai black box. Ini ternyata kepakai banget setelah pindah ke Product Management. Ketika engineer ngomong soal API, data flow, network constraint, integration, atau behavior aplikasi, saya memang bukan orang yang akan turun tangan memperbaiki semuanya sendiri. Tapi saya biasanya masih bisa bikin mental model: datanya datang dari mana, lewat apa, berubah di mana, siapa yang pakai setelahnya, dan masalahnya kemungkinan muncul di layer mana. Pengalaman nulis technical documentation juga ternyata efeknya panjang. Waktu itu saya belajar kalau ngerti sesuatu dan bisa menjelaskan sesuatu adalah dua skill yang beda. Sekarang medianya sudah berubah dari tutorial ANTARES ke requirement, acceptance criteria, atau dokumentasi product. Tapi prinsipnya masih sama. Kalau engineer dan QA masih harus terus-terusan nanya “sebenarnya maksudnya apa?”, berarti pekerjaan komunikasinya belum selesai.
Product area
IoT PlatformLoRaWANIoT ConnectivityDeveloper PlatformHardwarePCB DesignRF & AntennaNetwork InfrastructureGatewayDeveloper DocumentationQuality AssuranceResearch & Development
Platform
IoTHardwareWebIoT ConnectivityIoT PlatformIoT Gateway
Baca studi kasus

NGOBROL YUK

Ada yang menarik untuk dibahas?

Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.