2023
B2B Dealer Portal
Sebelumnya saya cukup terbiasa melihat ecommerce dari sisi B2C: banyak customer, banyak transaksi, dan sebagian besar experience dibuat supaya proses belanja terasa sesederhana mungkin.
Waktu sempat pegang B2B Dealer Portal selama beberapa bulan, saya baru melihat bentuk ecommerce yang agak berbeda. User-nya memang jauh lebih sedikit, tapi setiap transaksi punya nilai dan konsekuensi yang jauh lebih besar.
Dari sini saya mulai sadar kalau user lebih sedikit bukan berarti produknya otomatis lebih sederhana.

KONTRIBUSI SAYA
Saya pegang produk ini sebenarnya karena kondisi yang cukup sederhana: PM sebelumnya resign, penggantinya belum ada, sementara produk tetap harus jalan. Saat itu saya juga masih relatif baru di Erajaya dan scope utama saya di JD Sports belum sebesar sekarang. Akhirnya selama masa transisi, B2B Dealer Portal ikut masuk ke scope saya selama beberapa bulan. Karena tahu ownership-nya sementara, saya nggak datang dengan ambisi mau redesign semuanya atau bikin product vision baru. Saya bahkan masih harus belajar dulu sebenarnya siapa yang pakai produknya, bagaimana mereka bertransaksi, dan apa yang dibutuhkan tim operasional di belakangnya. Setelah cukup memahami konteksnya, saya menangani beberapa enhancement di kedua sisi: experience dealer ketika melakukan transaksi dan experience tim internal yang sehari-hari menjalankan proses tersebut.
MASALAH
Kalau cuma lihat permukaannya, Dealer Portal masih kelihatan seperti ecommerce biasa. Ada produk. Ada proses pembelian. Ada order. Tapi begitu mulai masuk lebih dalam, konteks transaksinya ternyata beda. Dealer nggak berbelanja seperti customer retail. Mereka datang sebagai bisnis, punya kebutuhan yang berbeda, pola pembelian yang berbeda, dan nilai transaksi yang jauh lebih besar. Di belakang transaksi itu juga ada proses operasional yang nggak selalu kelihatan dari interface. Jadi saya nggak bisa sekadar membawa asumsi dari B2C lalu menganggap semuanya akan bekerja dengan cara yang sama. Tantangan saya waktu itu justru cukup basic: belajar konteks bisnisnya secepat mungkin tanpa bikin produk yang sudah berjalan harus ikut berhenti menunggu saya belajar.
HASIL
Selama beberapa bulan saya pegang, Dealer Portal tetap berjalan sambil beberapa improvement di sisi dealer maupun operasional berhasil dikembangkan. Setelah masa transisinya selesai, scope ini kemudian berpindah dan saya kembali lebih fokus ke produk utama yang saya pegang. Nggak ada big launch atau transformasi besar sebagai ending project ini. Dan menurut saya memang nggak harus ada. Saya masuk karena ada gap ownership. Beberapa bulan kemudian produknya tetap jalan, beberapa masalah berhasil dibereskan, dan ownership-nya bisa diteruskan lagi. Untuk konteks project ini, itu sudah menjadi outcome yang cukup masuk akal.
DAMPAK
Yang paling saya bawa dari project ini sebenarnya bukan fitur yang sempat dikerjakan. Justru cara saya melihat scale yang berubah. Sebelumnya kalau bicara ecommerce besar, pikiran saya otomatis ke jumlah user, traffic, atau banyaknya transaksi. Di B2B saya melihat dimensi lain. User-nya bisa jauh lebih sedikit. Transaksinya juga nggak sebanyak B2C. Tapi satu transaksi bisa membawa konsekuensi bisnis yang jauh lebih besar. Sejak itu saya jadi agak hati-hati kalau melihat produk dengan user sedikit lalu langsung menganggap produknya kecil atau sederhana. Jumlah user cuma salah satu bentuk scale. Konsekuensi dari apa yang dilakukan setiap user juga bentuk scale yang lain.
NGOBROL YUK
Ada yang menarik untuk dibahas?
Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.