Semua work

2021

End-to-end Smart Water Meter Platform

Awalnya kelihatannya seperti project IoT yang cukup straightforward: bikin water meter yang bisa mengirim data secara otomatis.

Ternyata begitu dibawa lebih jauh, produknya jadi jauh lebih besar dari sekadar meteran.

Ada device di lapangan, connectivity, IoT platform, aplikasi untuk perusahaan air, sampai mobile app untuk customer. Bahkan prosesnya ikut masuk ke pengelolaan penggunaan dan tagihan.

Di Gamatechno, saya dipercaya sebagai Product Owner untuk mengembangkan product ini dan membawanya sampai bisa didemokan ke beberapa calon pengguna.

Produknya jalan. Demonya juga jalan.

Tapi sampai saya pindah dari Gamatechno, belum ada yang akhirnya benar-benar mengadopsinya secara komersial.

Dari sini saya belajar satu tahap lebih jauh dari POC-POC sebelumnya:

produk yang bisa bekerja belum tentu produk yang market-nya siap beli.

PERAN SAYAProduct Owner · IoT System Analyst
KONTEKSPT Gamatechno Indonesia
STATUSDiarsipkan
Product area
IoTSmart MeteringUtility TechnologyB2BHardwareLoRaWANIoT PlatformInternal ToolsBillingPaymentCustomer ManagementAndroidiOSOperational Platform
Platform
IoT HardwareIoT GatewayIoT ConnectivityWebIOSAndroid
Skills / Thinking themes
Product OwnershipIoT Product DevelopmentProduct StrategyB2B Product ManagementMarket ValidationSystems ThinkingProduct DiscoverySolution DesignOperational Product ManagementHardware & Software IntegrationStakeholder CollaborationProduct-Market FitAdoption Strategy
Technologies
LoRaWANLoRa
Team
BE DeveloperFE DeveloperMobile App DeveloperQAProduct Designer
ilustrasi water metering IoT System

KONTRIBUSI SAYA

Role saya di product ini agak campur antara Product Owner dan IoT System Analyst. Saya ikut dari layer paling bawah sampai experience yang akhirnya dilihat user: mulai dari meteran dan bagaimana datanya dikirim, connectivity dan IoT platform, aplikasi operasional untuk perusahaan air, sampai mobile app yang dipakai customer mereka. Dan ternyata begitu masuk lebih jauh, masalahnya nggak berhenti di “berapa banyak air yang dipakai?” Di sisi perusahaan air ada customer management, consumption, billing, sampai kebutuhan model pembayaran yang berbeda. Di sisi end customer juga harus ada cara untuk melihat dan mengelola layanan serta tagihan mereka. Jadi pekerjaan saya bukan cuma menentukan bagaimana satu device bekerja. Saya perlu melihat bagaimana semua bagian itu bisa nyambung menjadi satu product experience dari meteran di lapangan sampai informasi yang akhirnya diterima customer.

MASALAH

Kalau dipikir sederhana, water meter cuma mencatat berapa banyak air yang dipakai. Masalahnya, angka itu tetap harus sampai ke perusahaan yang mengelola layanan. Setelah itu datanya harus bisa dipakai untuk operasional, berubah jadi billing, lalu akhirnya informasi tersebut harus sampai lagi ke customer. Menghubungkan meteran ke internet ternyata cuma menyelesaikan bagian pertama. Masalah yang lebih besar adalah: gimana caranya semua teknologi ini benar-benar masuk ke cara kerja perusahaan air yang sudah berjalan? Dan berbeda dengan consumer app yang bisa tinggal download lalu dicoba, produk seperti ini membutuhkan keputusan organisasi. Ada hardware yang harus dipasang. Ada infrastructure. Ada proses operasional yang berubah. Ada orang yang harus belajar sistem baru. Dan tentu ada investasi yang harus dijustifikasi. Di sini mulai kelihatan kalau kecepatan kita membangun produk dan kecepatan market mengadopsi produk ternyata dua hal yang sangat berbeda.

HASIL

Kami akhirnya punya product yang cukup end-to-end. Meteran bisa mengirim data, ada connectivity dan IoT platform di belakangnya, perusahaan air punya aplikasi operasional, dan customer punya mobile app untuk mengakses layanan mereka. Produknya juga sempat dibawa demo ke beberapa calon pengguna di berbagai daerah. Tapi sampai saya pindah dari Gamatechno, belum ada yang akhirnya benar-benar masuk ke commercial adoption. Dulu mungkin ending seperti ini terasa kurang satisfying. Sekarang menurut saya justru itu bagian penting dari ceritanya. Kami sudah cukup jauh membuktikan bahwa produknya bisa bekerja. Yang belum berhasil kami buktikan adalah apakah value-nya, biaya untuk mengadopsinya, kesiapan organisasi, dan kondisi market semuanya sudah cukup align sampai customer mau benar-benar mengubah cara mereka bekerja.

DAMPAK

Kalau POC-POC sebelumnya ngajarin saya bahwa technically feasible belum tentu commercially viable, project ini membawa lesson itu satu langkah lebih jauh. Karena kali ini produknya bukan sekadar prototype kecil. Device ada. Connectivity jalan. Platform ada. Operational app ada. Customer app juga ada. Bahkan semuanya bisa didemokan sebagai satu service. Dan ternyata semua checklist itu masih belum otomatis berarti: ada market yang mau beli. Buat saya waktu itu lumayan membuka mata. Karena ternyata kita bisa punya sesuatu yang secara definisi sudah terasa seperti “produk”, tapi masih belum punya jawaban yang kuat untuk pertanyaan paling basic: siapa yang cukup butuh ini sampai mereka mau berubah dan membayar untuk menggunakannya?

NGOBROL YUK

Ada yang menarik untuk dibahas?

Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.