Semua work

2020

ANTARES IoT Platform & LoRAWAN Connectivity Deployment

Kalau ditarik cukup jauh ke belakang, banyak fondasi teknis saya sebenarnya mulai kebentuk dari satu tahun magang di Telkom Indonesia.

Saya waktu itu masuk ke tim IoT dan banyak bersentuhan dengan ANTARES dan pengembangan connectivity-nya. Kerjaan saya cukup campur aduk: dari PCB, 3D printing, antenna, LoRaWAN gateway dan network testing, sampai QA dan nulis technical documentation.

Waktu itu saya melihat semuanya sebagai kesempatan buat belajar engineering sebanyak-banyaknya.

Baru setelah beberapa tahun kerja saya sadar ada satu hal lain yang ternyata ikut kebentuk di sana:

belajar sebuah sistem sampai cukup ngerti untuk bisa menjelaskannya lagi ke orang lain.

PERAN SAYAIoT Research & Development Intern
KONTEKSPT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
STATUSSudah Dirilis
Product area
IoT PlatformLoRaWANIoT ConnectivityDeveloper PlatformHardwarePCB DesignRF & AntennaNetwork InfrastructureGatewayDeveloper DocumentationQuality AssuranceResearch & Development
Platform
IoTHardwareWebIoT ConnectivityIoT PlatformIoT Gateway
Skills / Thinking themes
Systems ThinkingTechnical CommunicationIoTHardware PrototypingTechnical DocumentationDeveloper ExperienceNetwork TestingResearch & DevelopmentQuality AssuranceRF & ConnectivityCross-layer Problem SolvingTechnical Literacy
Technologies
LoRaWANESP32STM32WiFIBLELoRAGrafanaANTARESEagle CADRaspberry PiArduino IDEC/C++JavascriptMQTT
Team
Hardware EngineerFE DeveloperBE DeveloperQARF EngineerNetwork Engineer
ilustrasi antares iot platform ecosystem

KONTRIBUSI SAYA

Selama satu tahun internship, scope saya cukup luas dan nggak berhenti di satu layer saja. Saya sempat ngerjain hardware prototyping seperti design PCB, enclosure lewat 3D printing, sampai eksperimen antenna dan RF. Di sisi connectivity, saya ikut setup LoRaWAN gateway dan drive test untuk melihat coverage serta behavior network di kondisi sebenarnya. Di sisi platform, saya juga banyak bersentuhan dengan ANTARES lewat QA, testing, dan nulis technical documentation serta tutorial untuk developer yang mau menggunakan platform-nya. Yang paling menarik justru karena semua bagian itu nyambung. Saya bisa mulai dari device fisik, lalu mikirin gimana dia komunikasi lewat LoRaWAN, datanya masuk ke ANTARES, sampai akhirnya harus ditulis dengan cukup jelas supaya orang lain bisa ngerti dan pakai sistemnya tanpa harus nanya terus ke orang yang bikin. Waktu itu saya belum kepikiran istilah systems thinking. Saya cuma lagi belajar tiap bagiannya satu-satu. Ternyata justru dari situ mental model end-to-end saya mulai kebentuk.

MASALAH

Kalau dijelasin secara high level, IoT kedengarannya simpel: ambil data dari device, kirim lewat network, masuk ke platform, selesai. Pas dikerjain, ternyata tiap layer punya masalahnya sendiri. Device harus benar-benar bekerja secara fisik. Antenna dan RF-nya harus masuk akal. LoRaWAN sangat bergantung ke coverage, posisi gateway, kondisi bangunan, terrain, dan environment. Setelah datanya sampai, platform juga harus bisa menerima dan mengolahnya dengan benar. Dan ternyata bahkan kalau semuanya technically works, belum tentu orang lain langsung ngerti cara pakainya. Di sini saya pertama kali benar-benar melihat pola bahwa masalah sering kali bukan ada di satu komponen. Masalahnya justru muncul di sambungan antar layer. Device bisa normal tapi connectivity gagal. Network bisa jalan tapi integration ke platform salah. Platform bisa technically benar tapi documentation-nya bikin orang lain susah reproduce setup-nya. Jadi satu sistem bisa kelihatan sehat kalau tiap bagian dilihat sendiri-sendiri, tapi tetap gagal ketika semuanya dipasang bareng.

HASIL

Di akhir internship, secara teknis saya jelas naik level cukup jauh. Project kampus yang sebelumnya mungkin cukup pakai development board, jumper, dan solder seadanya mulai bisa saya bawa lebih proper: design PCB sendiri, bikin enclosure, eksperimen antenna, mikirin connectivity, sampai connect ke IoT platform. Fondasi itu juga yang kemudian bikin saya jauh lebih siap ketika masuk ke role IoT System Analyst setelah lulus. Tapi kalau sekarang ditanya apa outcome paling panjang dari satu tahun itu, jawabannya bukan satu technology tertentu. Bukan design PCB. Bukan LoRaWAN. Bukan juga ANTARES. Yang paling nempel justru cara melihat aliran sebuah sistem dari dunia fisik sampai jadi data yang akhirnya dipakai orang. Dan sekaligus sadar kalau banyak hal bisa salah di tengah jalan.

DAMPAK

Impact paling besar dari pengalaman ini buat saya justru technical literacy. Bukan dalam arti harus jadi engineer paling jago di ruangan. Tapi cukup ngerti bagaimana layer-layer teknis saling terhubung supaya ketika ada masalah, saya nggak melihat semuanya sebagai black box. Ini ternyata kepakai banget setelah pindah ke Product Management. Ketika engineer ngomong soal API, data flow, network constraint, integration, atau behavior aplikasi, saya memang bukan orang yang akan turun tangan memperbaiki semuanya sendiri. Tapi saya biasanya masih bisa bikin mental model: datanya datang dari mana, lewat apa, berubah di mana, siapa yang pakai setelahnya, dan masalahnya kemungkinan muncul di layer mana. Pengalaman nulis technical documentation juga ternyata efeknya panjang. Waktu itu saya belajar kalau ngerti sesuatu dan bisa menjelaskan sesuatu adalah dua skill yang beda. Sekarang medianya sudah berubah dari tutorial ANTARES ke requirement, acceptance criteria, atau dokumentasi product. Tapi prinsipnya masih sama. Kalau engineer dan QA masih harus terus-terusan nanya “sebenarnya maksudnya apa?”, berarti pekerjaan komunikasinya belum selesai.

NGOBROL YUK

Ada yang menarik untuk dibahas?

Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.