2023 - Present
Commerce Integrations & Data Flows
Sebagian pekerjaan paling teknis yang saya pegang sebagai Product Manager justru hampir nggak punya UI.
Selama megang digital product JD Sports Indonesia, saya cukup sering berada di tengah integrasi antara commerce platform dengan berbagai system lain: product discovery, analytics, marketing, attribution, personalization, notification, sampai system dan service internal.
Cara integrasinya juga macam-macam. Ada yang bertukar data lewat feed, API, SDK, script, sampai event-driven integration.
Tapi setelah cukup sering ngerjain beginian, ternyata problem dasarnya kurang lebih selalu balik ke tiga pertanyaan:
Data apa yang harus pindah? Kapan dia harus pindah? Dan apa yang terjadi kalau dia nggak sampai dengan benar?
Dari sini technical acumen saya sebagai PM mungkin paling banyak terasah.

KONTRIBUSI SAYA
Saya tentu bukan engineer yang implement semua integrasi ini sendiri. Tapi lama-lama saya juga nggak bisa cuma bikin requirement lalu bilang ke engineer: “Pokoknya system A integrate ke system B ya.” Saya tetap harus ngerti cukup dalam. Baca technical documentation-nya. Ngerti data apa yang dibutuhkan. Mapping-nya masuk akal atau nggak. Behavior ketika datanya kosong gimana. Update-nya datang dari mana. System mana yang jadi source of truth. Kalau hasil di ujung salah, kita harus mulai nyari masalahnya dari layer mana. Pattern integrasinya sendiri beda-beda. Ada system yang consume product data lewat structured feed. Ada yang lewat API. Ada capability di web dan mobile yang bergantung ke SDK atau script. Analytics dan attribution punya kebutuhan instrumentation sendiri. Internal system juga punya cara komunikasi yang berbeda, termasuk synchronous maupun event-driven. Belum lagi satu business concept yang sama kadang harus tetap konsisten di website, mobile app, kiosk, dan system di belakangnya. Jadi kontribusi saya bukan menjadi orang yang coding semua koneksinya. Lebih ke ngerti cukup dalam supaya integrasi nggak berubah jadi black box yang cuma bisa saya lempar ke engineering.
MASALAH
Integration punya jenis keribetan yang agak unik. Karena sering kali nggak ada satu orang atau satu tim yang benar-benar mengontrol semuanya dari ujung ke ujung. System A menghasilkan data. Di tengah mungkin ada yang transform. System B consume. Third party punya interpretation dan rule sendiri. Baru setelah melewati semuanya itu hasilnya kelihatan ke user. Masalahnya, kalau yang kelihatan di ujung salah, sumber masalahnya belum tentu ada di ujung. Product yang muncul salah di search bisa jadi problem-nya sudah mulai beberapa layer sebelumnya. Data analytics beda belum tentu dashboard-nya yang salah. Fitur yang works di web belum tentu punya behavior yang benar-benar sama di mobile. Dari luar mungkin cuma kelihatan: “Kok hasilnya salah?” Di belakangnya pertanyaannya bisa panjang: Salah dari source-nya? Mapping? Transformation? Timing? Integration? Atau system penerimanya yang interpret datanya beda? Di sini saya mulai sadar kalau integration work bukan sekadar menyambungkan dua system. Yang lebih susah justru menjaga supaya dua system punya pemahaman yang sama tentang data yang sedang mereka pertukarkan.
HASIL
Selama beberapa tahun, saya akhirnya pegang cukup banyak integration dengan konteks yang beda-beda: product discovery, analytics, marketing technology, attribution, personalization, notification, sampai komunikasi antar internal system. Outcome masing-masing tentu beda dan nggak perlu semuanya saya list satu-satu di sini. Yang lebih penting, berbagai capability tersebut bisa bekerja sebagai bagian dari ecosystem yang sama di web, mobile app, kiosk, dan system pendukung di belakangnya. Buat saya pribadi, efek paling besarnya datang dari repetisi. Setelah cukup sering ketemu API, feed, SDK, mapping, script, sampai event-driven system, semua istilah itu lama-lama nggak terasa seperti teknologi yang completely berbeda. Mereka mulai kelihatan sebagai variasi dari problem yang sama: gimana satu system memberitahu system lain tentang sesuatu yang dia tahu.
DAMPAK
Kalau pengalaman di Telco dulu memberi saya fondasi technical literacy, kerjaan integration seperti ini yang kemudian terus mengasahnya dalam konteks Product Management. Saya jadi jauh lebih nyaman baca technical documentation, diskusi soal data contract, test API, ngerti boundary antar system, sampai troubleshooting bareng engineer atau partner ketika behavior-nya nggak sesuai ekspektasi. Tapi yang lebih penting, cara saya melihat product juga berubah. Sekarang kalau lihat search result, recommendation, notification, analytics event, atau sekadar informasi product di layar, saya nggak cuma melihat apa yang dirender di UI. Saya otomatis kepikiran: data ini asalnya dari mana, siapa yang punya, lewat system apa saja, kapan terakhir berubah, dan apa yang terjadi kalau salah satu sambungannya gagal. Menurut saya di sinilah sisi technical saya sebagai Product Manager paling terasa. Bukan karena saya harus mengambil pekerjaan engineer. Justru karena saya jadi lebih ngerti seberapa dalam saya perlu masuk supaya bisa membuat keputusan product yang benar, dan kapan saya harus berhenti lalu membiarkan specialist yang lebih ngerti mengambil alih.
NGOBROL YUK
Ada yang menarik untuk dibahas?
Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.