2023 - Present
Website, Kiosk & Internal Apps JD Sports Indonesia
Awalnya saya melihat website ya sebagai website. Ada catalog, PDP, cart, checkout, selesai. Setelah tiga tahun lebih pegang banyak bagian di dalamnya, saya mulai sadar kalau yang dilihat customer di layar mungkin justru bagian paling sederhana dari sebuah ecommerce.
Dari maintain dan memperbaiki produk yang sudah ada, scope saya perlahan melebar ke kiosk, internal apps, berbagai integrasi, sampai banyak bagian lain yang bekerja di belakangnya. Dari situ saya mulai melihat ecommerce bukan lagi sebagai kumpulan halaman dan fitur, tapi sebagai banyak sistem yang harus bisa bekerja bareng tanpa customer perlu tahu serumit apa yang terjadi di belakang.

KONTRIBUSI SAYA
Saya masuk ketika platform ecommerce utamanya sebenarnya sudah berjalan. Jadi saya nggak punya cerita membangun semuanya dari nol. Sebagian besar pekerjaan saya justru dimulai dari masuk ke sistem yang sudah hidup, memahami kenapa sesuatu bekerja seperti itu, lalu mencari cara memperbaiki atau menambahkan sesuatu tanpa bikin masalah baru di tempat lain. Selama lebih dari tiga tahun, scope yang saya pegang jadi cukup luas. Mulai dari fitur yang langsung dipakai customer, product discovery, account experience, pengalaman yang berhubungan dengan toko, integrasi analytics dan marketing, distribusi data produk ke berbagai platform, sampai internal tools yang dipakai untuk menjalankan ecommerce sehari-hari. Ada yang bentuknya enhancement kecil. Ada juga yang kelihatannya sederhana di depan, tapi ternyata harus menyentuh beberapa sistem dan melibatkan banyak tim sebelum akhirnya bisa sampai ke customer. Seiring scope-nya makin besar, saya juga mulai bekerja bersama dua junior Product Manager. Mereka membantu pegang beberapa area yang lebih kecil, sementara saya banyak membantu memberikan konteks, menentukan prioritas, dan ikut masuk ketika masalahnya mulai bersinggungan dengan bagian produk yang lebih luas.
MASALAH
Awalnya saya cukup sering melihat masalah ecommerce berdasarkan tempat masalah itu muncul. Kalau masalahnya di search, ya berarti masalah search. Stock berarti urusan inventory. Tracking berarti analytics. Order ya berarti order management. Semakin lama pegang banyak area, pembagian seperti itu malah semakin nggak relevan. Data produk yang berubah ternyata bisa berpengaruh ke merchandising, search, ads, sampai apa yang akhirnya dilihat customer. Stock menentukan bukan cuma angka yang tampil, tapi juga apa yang boleh dibeli. Bahkan fitur yang kelihatannya simpel di frontend bisa bergantung ke beberapa sistem lain sebelum benar-benar bisa bekerja. Akhirnya tantangannya bukan lagi sekadar, “gimana caranya bikin fitur ini jalan?” Pertanyaannya berubah jadi, “kalau bagian ini kita ubah, apa lagi yang ikut berubah?”
PENDEKATAN
Semakin lama, saya justru semakin jarang langsung membahas fiturnya. Biasanya saya mulai dari mencoba ngerti apa yang ada di sekelilingnya. Datanya datang dari mana? Setelah ini pergi ke mana? Siapa lagi yang pakai data yang sama? Sistem apa yang ikut bergantung? Dan kalau salah satu asumsi kita ternyata salah, efeknya bakal muncul di mana? Cara pikir ini kepakai banget waktu mengerjakan integrasi. Banyak platform membutuhkan informasi yang mirip, tapi cara mereka membaca dan menggunakannya bisa beda-beda. Detail teknisnya tentu dikerjakan bareng engineer dan tim terkait, tapi dari sisi produk saya perlu ngerti cukup jauh supaya tahu sebenarnya dua sistem ini sedang mencoba menyelesaikan kebutuhan apa. Hal yang sama akhirnya saya bawa ketika mengembangkan fitur. Saya jadi lebih terbiasa mengikuti alurnya sedikit lebih jauh sebelum menganggap sebuah request cuma sebagai pekerjaan frontend. Kadang setelah ditelusuri, masalah yang muncul di layar ternyata asalnya ada beberapa langkah sebelumnya. Saya nggak perlu tahu setiap sistem lebih dalam daripada engineer atau orang yang memang sehari-hari bekerja di sana. Tapi saya perlu ngerti hubungan antar bagiannya supaya bisa nanya hal yang tepat sebelum mengambil keputusan.
HASIL
Kalau dibuat daftar, selama tiga tahun lebih tentu sudah banyak fitur, enhancement, dan integrasi yang akhirnya jalan. Ada yang langsung kelihatan oleh customer seperti store locator, pengecekan stock di toko, click & collect, account experience, product discovery, dan berbagai improvement lain sepanjang shopping journey. Ada juga cukup banyak pekerjaan yang customer mungkin nggak akan pernah tahu ada, karena memang kerjanya di belakang: menghubungkan commerce dengan analytics, marketing, product data, merchandising, sampai berbagai sistem internal yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Project ini nggak punya satu tanggal launch atau satu angka yang bisa merangkum semuanya. Dan menurut saya memang bukan itu poinnya. Hasilnya lebih kelihatan dari bagaimana platform ini terus berubah selama bertahun-tahun, sementara customer dan tim internal tetap bisa menggunakannya setiap hari.
DAMPAK
Dampak paling besar dari tiga tahun lebih di area ini justru ada di cara saya melihat produk. Saya mulai dari apa yang kelihatan di layar. Lama-lama saya jadi penasaran dengan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Sebuah produk nggak tiba-tiba muncul begitu saja di website. Ada data yang harus datang dari suatu tempat, dilengkapi, diatur, dikurasi, bisa ditemukan customer, punya harga dan stock yang sesuai, lalu kadang data yang sama juga harus dibaca oleh platform lain dengan kebutuhan yang berbeda. Begitu customer memutuskan beli, rantainya lanjut lagi ke cart, payment, order, fulfillment, dan proses setelah transaksi. Saya nggak perlu membuka detail bagaimana semua itu bekerja di sini. Yang penting buat saya justru apa yang saya pelajari dari melihat semuanya saling berhubungan. Saya jadi semakin jarang melihat pekerjaan sebagai “fitur saya” atau “sistem mereka.” Biasanya bagian yang paling menarik justru ada di tengah-tengahnya.
NGOBROL YUK
Ada yang menarik untuk dibahas?
Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.