Lab

Sedang Dibangun · 25%

Talaqqi

Eksperimen awal gue untuk merancang ruang belajar ngaji privat secara online, terinspirasi dari keseharian istri gue saat mengajar dan belajar ngaji.

Prototype

Gambaran umum

Status
Sedang Dibangun
Kemajuan
25%
Tingkat kesulitan
Ambitious
Mulai
26 Agu 2026

Stack & alat

Teknologi
TypeScriptReactNext.jsTailwind CSSRadix UIReact Hook FormZodSupabasePostgreSQLRow Level SecuritySupabase RealtimeWebRTCVercelGitHub ActionsVitestPlaywrightaxe-core
Perangkat lunak
FigmaCodexGitHub

01 / ALASAN DIBUAT

Kenapa gue bikin ini

Talaqqi berawal dari sesuatu yang dekat banget sama keseharian gue. Istri gue, Djihan, mengajar ngaji online di Albata. Di saat yang sama, dia juga ikut pesantren online, talaqqi, dan tes hafalan. Dari situ gue mulai memperhatikan bagaimana proses mengajar, menyimak bacaan, memberi koreksi, mengatur jadwal, dan mencatat perkembangan berjalan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Gue kemudian kepikiran: seperti apa product yang dari awal memang dirancang untuk hubungan belajar antara guru ngaji dan murid? Visi jangka panjangnya adalah platform yang menghubungkan guru ngaji freelance dengan orang-orang dari berbagai usia yang ingin belajar. Tapi untuk sekarang, itu masih hipotesis yang belum tervalidasi.

02 / MASALAH YANG DIEKSPLORASI

Apa yang ingin gue pahami atau selesaikan

Belajar ngaji online bukan cuma mempertemukan guru dan murid lewat video call. Guru perlu mendengarkan bacaan dengan teliti, menunjukkan bagian yang sedang dibahas, mengikuti posisi bacaan murid, memberikan koreksi, dan meninggalkan catatan untuk pertemuan berikutnya. Dari sisi murid, alurnya juga dimulai sebelum kelas dan berlanjut setelah kelas selesai: mengecek perangkat, menunggu guru, mengikuti ayat yang sedang dibaca, menerima feedback, lalu mengetahui bagian yang perlu dilatih. Prototype ini mencoba menyatukan momen-momen tersebut dalam satu experience. Tapi gue belum punya cukup bukti bahwa guru dan murid benar-benar membutuhkan platform baru, atau bahwa model marketplace guru ngaji freelance akan berjalan.

03 / PENDEKATAN

Gimana idenya dibawa jadi sesuatu yang bisa dicoba

Gue mulai dari experience untuk tiga role: murid, guru, dan admin. Flow-nya bergerak dari dashboard ke pengecekan perangkat, waiting room, kelas live, lalu rangkuman setelah sesi selesai. Di dalam prototype kelas, audio dan video dari browser dipadukan dengan Qur’an reader berformat RTL. Guru bisa memilih ayat, lalu tampilan murid dapat mengikuti posisi tersebut melalui event yang disinkronkan. Project ini gue susun sebagai aplikasi Next.js modular, dengan provider layer untuk media dan realtime communication. Tujuannya supaya UI tidak terlalu terikat dengan satu vendor WebRTC atau realtime tertentu saat arah teknisnya masih terus diuji. Repository-nya sudah berisi schema PostgreSQL, row-level security policies, adapter Supabase, automated tests, dan dokumentasi deployment. Fondasinya cukup lengkap untuk sebuah prototype, tetapi deployment publiknya masih berjalan dalam demo mode tanpa authentication dan persistence Supabase yang sebenarnya. Ide marketplace masih sebatas arah pengembangan. Fitur pencarian guru, verifikasi, jadwal, matching, harga, payment, review, dan penanganan masalah belum dibangun.

04 / CATATAN LAPANGAN

Berawal dari pengamatan

Ide ini tidak berawal dari diagram marketplace atau daftar fitur. Awalnya cuma dari kebiasaan gue melihat Djihan berpindah antara mengajar di Albata, ikut pesantren online, menjalani talaqqi, dan mengikuti tes hafalan.

Hal yang menarik buat gue bukan hanya karena semua aktivitas itu dilakukan secara online. Ada banyak koordinasi di sekitar proses belajar yang sebenarnya sangat personal: menyiapkan perangkat, mendengarkan bacaan dengan teliti, mencari posisi ayat, memberi koreksi, mengingat progres, lalu menyiapkan pertemuan berikutnya.

Itu yang bikin Talaqqi cocok masuk ke Lab. Project ini adalah cara gue mengubah pengamatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi sebuah pertanyaan product, tanpa berpura-pura sudah tahu jawabannya.

Yang sudah ada sekarang

Build saat ini sudah mencakup interface untuk murid, guru, dan admin. Murid bisa melihat kelas berikutnya, melakukan device check, masuk ke waiting room, bergabung ke kelas, dan menjalani flow sesi.

Classroom-nya memiliki kontrol kamera dan mikrofon, Qur’an reader RTL, ayah highlighting, recitation mode, reaction, dan classroom state yang dapat disinkronkan. Dari sisi guru, ada juga persiapan kelas dan rangkuman setelah sesi, termasuk catatan privat dan catatan yang bisa dilihat murid.

Di belakangnya sudah ada database design, integration layer Supabase, realtime adapter, native WebRTC provider, authorization policies, dan automated tests. Meskipun begitu, demo publik masih memakai seeded data dan state lokal di browser. Ini masih interactive prototype, bukan learning service yang siap dipakai.

Masalah audio dan video

Kualitas audio untuk bacaan Qur’an punya kebutuhan yang berbeda dari meeting biasa. Fitur browser seperti echo cancellation, noise suppression, dan automatic gain control bisa membantu percakapan, tetapi juga dapat memengaruhi bagaimana suara-suara halus terdengar.

Prototype ini sudah memiliki recitation mode dan beberapa pilihan audio processing. Tapi fitur itu sendiri belum menyelesaikan masalah. Semuanya masih perlu diuji bersama guru dan murid sungguhan, memakai perangkat, browser, dan kondisi jaringan yang beragam.

Koneksi peer-to-peer WebRTC juga tidak dijamin berhasil di setiap jaringan. Versi production kemungkinan membutuhkan TURN infrastructure. Kalau nantinya mendukung kelas kelompok, arsitektur medianya juga perlu berubah.

Platform bukan cuma classroom

Live classroom hanya satu bagian dari visi yang lebih luas. Menghubungkan guru freelance dengan murid membawa pertanyaan yang belum dijawab prototype ini: bagaimana guru diverifikasi, bagaimana murid memilih orang yang dipercaya, bagaimana jadwal dikelola, dan bagaimana kualitas serta safeguarding dijaga.

Masih ada persoalan harga, payment, pembatalan, privasi, serta kecocokan guru untuk anak-anak atau murid dewasa. Menurut gue, pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menambah screen baru.

Jadi untuk sekarang batasnya gue buat jelas: experience kelas sudah diprototype, sedangkan marketplace masih menjadi arah yang perlu diteliti.

NGOBROL YUK

Ada yang menarik untuk dibahas?

Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.