Lab

Sedang Dibangun · 85%

Built by Tegar — Personal Website & Content Management System

Website pribadi bilingual untuk menyimpan dan membagikan work, eksperimen, tulisan, dan hal-hal yang gue pelajari selama hidup.

Web

Gambaran umum

Status
Sedang Dibangun
Kemajuan
85%
Tingkat kesulitan
Ambitious
Mulai
1 Agu 2026

Stack & alat

Teknologi
AstroTypeScriptJavaScriptHTMLCSSSanityGROQCloudflare PagesCloudflare WorkersCloudflare TurnstileResendTelegram Bot APIGoogle Analytics 4Microsoft Clarity
Perangkat lunak
CodexSanity StudioGitHubCloudflareFigma

01 / ALASAN DIBUAT

Kenapa gue bikin ini

Keinginan punya website sendiri sebenarnya sudah ada bertahun-tahun, setidaknya sejak gue masih kuliah—bahkan mungkin jauh sebelum itu. Dari dulu gue melihat orang yang punya personal site sebagai orang yang benar-benar memahami bidangnya. Mereka punya sesuatu untuk dibagikan, tahu bagaimana ingin menampilkan dirinya, dan cukup peduli untuk membangun ruangnya sendiri. Keinginan itu juga nyambung dengan hal yang gue suka sejak kecil. Waktu SD sampai SMP, gue cukup aktif menulis di blog dan Wikipedia, sekaligus suka ngulik tampilan Blogspot. Tulisannya jelas belum berbobot—dan beberapa bahkan cuma hasil copas dari tulisan orang lain—tetapi gue suka mengubah layout, bereksperimen dengan tampilannya, dan bikin ruang itu terasa punya gue sendiri. Built by Tegar adalah kelanjutan dari rasa penasaran itu dalam versi gue yang sekarang: ruang milik sendiri untuk menyimpan work, eksperimen, tulisan, dan perubahan cara gue berpikir dari waktu ke waktu.

02 / MASALAH YANG DIEKSPLORASI

Apa yang ingin gue pahami atau selesaikan

Ternyata pengen punya website pribadi dan benar-benar menyelesaikannya adalah dua hal yang berbeda. Sebelumnya gue sudah beberapa kali mencoba. Sempat beli domain, mulai bikin lewat WordPress, lalu pernah juga mencoba Webflow. Tidak ada satu pun yang benar-benar sampai dirilis dengan layak. Kadang semangatnya cuma besar di awal lalu pelan-pelan hilang. Kadang tool yang dipakai punya cukup banyak batasan teknis dan desain sampai hasilnya terasa semakin jauh dari website yang gue bayangkan. Begitu sudah terasa bukan “gue”, motivasi buat melanjutkannya ikut hilang. Ketika versi ini mulai terbentuk, muncul masalah lain: selalu ada satu fitur tambahan, satu interaksi baru, atau satu detail kecil lagi yang rasanya menarik untuk dibuat. Hambatan terbesarnya bukan lagi membangun website, tetapi tahu kapan harus berhenti menambah printilan—dan benar-benar duduk untuk mengisi kontennya.

03 / PENDEKATAN

Gimana idenya dibawa jadi sesuatu yang bisa dicoba

Gue memperlakukan website ini sebagai sebuah product, bukan sekadar halaman portofolio yang sekali dibuat lalu selesai. Gue mulai dari ruang seperti apa yang memang ingin gue pakai sendiri: personal, editorial, sedikit playful, tetapi tetap cukup terstruktur untuk mendokumentasikan work secara proper. Visual system, arsitektur informasi, model konten bilingual, dan CMS-nya kemudian dibangun sebagai satu kesatuan. Codex membantu mengubah ide menjadi implementasi yang bisa langsung dicoba dengan cepat. Hal-hal yang sebelumnya terasa sulit dilakukan lewat tool berbasis template jadi lebih mungkin untuk dieksplorasi. Meskipun begitu, prosesnya tetap dipenuhi keputusan produk: apa yang memang pantas masuk, apa yang perlu configurable, bagian mana yang harus disederhanakan, dan fitur mana yang sebenarnya menarik tetapi tidak benar-benar diperlukan. Hasilnya adalah website statis berbasis Astro dan Sanity yang berjalan di Cloudflare, dilengkapi CMS terpisah, konten bilingual, search, accessibility controls, game interaktif di hero, analytics, contact delivery, serta infrastruktur pendukung untuk media dan usage monitoring.

04 / CATATAN LAPANGAN

Wishlist yang tidak pernah benar-benar hilang

Website ini bukan berawal dari ide portofolio yang tiba-tiba muncul. Keinginan punya ruang sendiri di internet sudah mengikuti gue selama bertahun-tahun.
Gue selalu suka gagasan punya tempat yang tidak bergantung pada social platform, profil perusahaan, atau format konten milik orang lain. Tempat yang struktur, tone, dan tampilannya bisa benar-benar mengikuti cara gue berpikir.

Kenapa percobaan sebelumnya berhenti

WordPress dan Webflow sebenarnya tool yang capable. Masalahnya, percobaan gue sebelumnya tidak pernah punya cukup momentum untuk berubah menjadi sesuatu yang ingin terus gue rawat.
Sebagiannya memang soal konsistensi. Sebagiannya lagi karena setiap batasan teknis atau visual membuat hasilnya terasa semakin tidak personal. Ketika jarak antara ide dan implementasinya sudah terlalu jauh, mulai dari awal terasa lebih gampang daripada menyelesaikannya.

Apa yang berubah kali ini

Vibe coding lewat Codex memperpendek jarak antara ide dan sesuatu yang bisa langsung gue coba.
Energi gue tidak lagi terlalu banyak habis untuk mencari tahu apakah sebuah interaksi mungkin dibuat secara teknis. Gue jadi bisa lebih fokus mempertanyakan apakah interaksi itu memang perlu ada. Prosesnya berubah dari sekadar merakit template menjadi membentuk product secara bertahap.

Bagian yang ternyata paling sulit

Tantangan terbesarnya ternyata bukan menulis code.
Yang lebih sulit adalah menentukan apa yang sebenarnya ingin gue ceritakan, mendokumentasikan perjalanan kerja dengan tetap menghormati batas kerahasiaan, menerjemahkan konten tanpa kehilangan suaranya, dan menahan keinginan untuk menunda rilis demi satu fitur kecil lagi.
Pada akhirnya, merilis website ini bukan soal menunggu semuanya benar-benar selesai. Justru gue harus menerima bahwa personal website memang seharusnya terus tumbuh bersama pemiliknya.

05 / PELAJARAN

Project ini mengingatkan gue bahwa bagian tersulit dari membangun sesuatu sering kali bukan implementasinya, tetapi mengambil keputusan dan benar-benar menyelesaikannya.

AI-assisted coding memang bisa mempercepat development secara drastis. Tetapi kecepatan tidak bisa menentukan apa yang layak dibangun. Product judgment, konten, arsitektur informasi, dan kemampuan menahan diri tetap punya peran yang jauh lebih besar.

Gue juga belajar bahwa personal website bukan cuma wadah portofolio. Ia adalah living product: sebagian arsip, sebagian publishing system, sebagian playground, dan sebagian lagi catatan tentang bagaimana pemiliknya berubah dari waktu ke waktu.

Yang paling penting, konten yang berguna tidak bisa digantikan oleh interaksi yang terlihat polished. Website ini baru terasa punya arti ketika gue berhenti menganggap konten sebagai sesuatu yang bisa diisi belakangan.

06 / BERIKUTNYA

  • Lebih rutin mendokumentasikan work dan eksperimen tanpa menunggu setiap ceritanya terasa sempurna.
  • Terus merapikan tulisan Bahasa Indonesia supaya terasa senatural versi English-nya.
  • Melanjutkan improvement untuk accessibility, performance, dan kenyamanan membaca.
  • Menggunakan perilaku visitor yang nyata untuk menentukan fitur mana yang memang layak dikembangkan.
  • Menjaga sistemnya tetap mudah dirawat dan menahan diri dari fitur yang tidak memperkuat konten.
  • Memperlakukan website ini sebagai arsip jangka panjang, bukan project yang harus mencapai kondisi “selesai.”

NGOBROL YUK

Ada yang menarik untuk dibahas?

Soal product, system, sesuatu yang lagi lo bangun, atau sekadar pengen tukar pikiran? boleh banget diobrolin.